16 Tahun Tertunda, Sulsel Akhirya Punya Lintasan Sport Climbing di Tebing Mandu Enrekang

/16 Tahun Tertunda, Sulsel Akhirya Punya Lintasan Sport Climbing di Tebing Mandu Enrekang

16 Tahun Tertunda, Sulsel Akhirya Punya Lintasan Sport Climbing di Tebing Mandu Enrekang

ENREKANG – Dua pemanjat senior Sulawesi Selatan, Ruslan Zulkarnaen alias Cullang dan Hasanuddin atau Udin sukses melakukan pembuatan jalur panjat tebing (sport climbing) di Tebing Mandu atau sering disebut Tebing Tontonan yang terletak di Dusun Tontonan, Kelurahan Tanete, Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pembuatan lintasan pemanjatan yang dilakukan pada 9 sampai 12 September 2020 ini merupakan jalur pertama sport climbing di Sulawesi Selatan. 

Jalur yang dibuka oleh duo Cullang dan Udin ini berada di sekitar jalur pemanjatan yang biasa dilakukan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) atau penggiat panjat tebing. 

Cullang mengatakan, dirinya bersama Udin melakukan pemanjatan hingga top atau puncak tebing selama 3 hari dengan total panjang lintasan pemanjatan sekitar 160 meter. Di lintasan tersebut duo pemanjat ini membuat 70 titik hanger sebagai pengaman lintasan pemanjatan serta membuat 4 pitch untuk hanging belay. 

“Tahun 2004 saya memanjati jalur tersebut dengan metode artificial climbing dan sekarang 2020 saya datang menjadikannya jalur sport atau free climbing, ” 

Dia mengungkapkan sebenarnya jalur yang mereka bikin adalah lintasan yang sudah dirintisnya sejak 16 tahun lalu atau tahun 2004. Karena itu pula jalur free climbing mereka beri nama “Jalur 16 Tahun”. 

“Sudah saya panjati 2004 perintisan pemanjatan pertama, ” kata dia sembari menjelaskan saat itu, ia sudah merintisnya bersama Udin. Alasan mengapa baru sekarang melanjutkan pemanjatan itu karena “Perencaan yang tertunda, waktu sempatnya baru sekarang, ” jelasnya. 

Dijelaskan juga bahwa hari pertama pemanjatan itu mereka sukses meraih ketinggian 70 meter kemudian pada hari kedua 50 meter dan pada hari ketiga pemasangan hanger sekitar 40 meter. 

“3 hari proses pembuatan jalur dan baru berhasil dites pemanjatan hari ini (Sabtu, 12 September) dengan waktu 7 jam, ” ujarnya. 

Tes atau percobaan pemanjatan itu dilakukan oleh Haspan, salah satu senior Mapala 45 Universitas Bosowa dan Walqa. “Sedangkan tim pendukung dan stan by rescue itu Hariadi, ” 

Dengan adanya jalur ini, Cullang berharap jadi pemicu dan semangat baru bagi para pemanjat Sulsel. “Harapan saya prestasi-prestasi dalam panjat tebing bisa kembali mengibar, ” ujar pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sulsel ini. 
 

By | 2020-09-14T04:23:10+00:00 September 14th, 2020|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment